Mira's Cerebrum

thoughts. insanity. love. you

No Cooking In Your Room

So, pertama kali masuk asrama di kasih tau sama ai yang jaga gedung saya ini untuk jangan memasak di dalam kamar. Tapi namanya juga orang kangen sama masakan Indonesia, ya tetep aja kita masak-masak. Tapi Mi mi. Rahasia. Alias diem-diem.

Sebenernya saya ini suka masak, well, lebih suka bikin kue sih… kalau masak-masak itu comes natural sih, berhubung anak saya gak suka jajan jadi saya harus pinter masak supaya dia mau makan. 

Nah, selama di Xiamen sini, saya mendadak males masak. Ya karena mau masakin siapa coba kecuali diri sendiri? Gak ada driving force nya. Masa’ masakin Bang Zul alias Xiao Fei atau si Banzhang, A Fei? Ya karena mereka hobi banget ngajakin masak2 sih… lebih iriiit. Me, on the other hand, suka aja kalo mereka masak, berarti ada makanan, berarti makan siang/malam saya sudah terjamin hehe…

Kami gak punya kompor, jadi suka pinjem kompor ke teman lain, yang dengan kurang ajarnya gak akan kita bagi makanan ke mereka…

Masalahnya cuma satu, inget kan kata Ai, gak boleh masak dalam kamar… kayaknya that’s for a good reason deh. Dengan gaya masakan Indonesia yang kaya bumbu dan bau-bau ikan, udang, daging bercampur, kamar saya jadi bau pasar! 

Berbagai macam cara sudah dijalani supaya baunya bisa ilang tapi selalu gagal. Tapi ada sih satu cara yang belum dilakukan, mengepel kamar dengan cairan pembersih lantai. Kalau saja harga cairan pembersih lantai yang wangi itu harganya gak mahal-mahal amat, pasti sudah saya beli. Tapi cairan pewangi berbau lemon itu isinya cuma seiprit harganya 13Yuan! apa2an inih??? apakah cairan pembersih lantai juga termasuk barang mewah??

Saya bisa mengerti kalau obat ketek alias deodoran harganya bisa sampe 30Yuan, atau pelembab muka yang biasa saya beli 80ribu jadi 120Yuan disini, mungkin menjadi wangi dan cantik adalah barang mewah, tapi pembersih lantai????

Gagal lah pengiritan saya dalam makan-makan… sampai saya berhasil mendapatkan cara menghilangkan bau pasar dari kamar, saya rasa saya menghindari untuk cooking in my room.

Xiamen Digest : The Beginning part 1

Setelah bergalau-galau antara mau atau nggak ngambil beasiswa yang sudah ditawarkan untuk belajar Bahasa Mandarin ke Xiamen, akhirnya saya putuskan untuk tetap mengambilnya. And off I went to Xiamen on the 8th of September.

Ketika akhirnya menginjakan kaki di Xiamen, tidak ada hal yang berbeda, bandara seperti umumnya. Sedikit lebih kecil dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Karena kami datang berombongan, dan ketika di imigrasi saya ditanya petugas dalam rangka apa ke Xiamen. Saya bilang kuliah, Dengan bahasa Inggris petugas imigrasi yang sulit saya mengerti, saya pun menjawab dengan apa yang saya rasa itu jawabannya. Untung aja bener jawabannya :)

Kampus Huaqiao terletak tidak terlalu jauh dari bandara, tapi lumayan jauh dari tengah kota. Dan seperti orang norak pada umumnya, ketika baru sampai saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk foto-foto. Padahal itu muka udah kusut dan berminyak banget. Gak apa-apa lah kan ada Camera 360. Hahah…

Setelah melakukan administrasi pertama, saya mendapatkan Chinese name dan kamar asrama. Kamar asramanya keren lho. Pake ruang tamu segala. Beda banget lah sama kamar asrama saya waktu saya kuliah duluuuu banget. Selain itu kamar asramanya juga dilengkapi dengan mesin cuci, TV, dan AC. Ini mah lebih mirip apartemen yang fully furnished. Ketika kami masuk AC sudah nyala. Jadi ya kami cuek-cuek aja karena toh kami juga gak ngerti cara baca remote AC nya. Sampai hari ke 4, saya dan roomate saya mulai bertanya-tanya. Kenapa sih, AC kita gak dingin, tapi lebih mirip kipas angin. Dan saya juga sudah mulai batuk-batuk. Saya bertanya ke senior dan dia pun melakukan semua setting AC, dan tadaa… kamar kami dingin kayak kulkas daging. —” Kasian roomate saya yang belum sempat beli selimut, dia tidur dengan menggunakan winter jacket. :p

Setelah mempelajari cara menggunakan remote AC, saya sekarang sudah pintar mengatur AC di ruangan hehehe :D

Waktunya belajar cara menggunakan mesin cuci…  Do’akan saya yaa… Karena tangan saya mulai kasar gara-gara saya gak berani memakai mesin cucinya :D

Waktunya memanggil senior saya lagi.

Btw, senior saya ini asalnya dari Ambon, orangnya ramah, baik hati, tidak sombong dan suka menolong, mungkin dia juga rajin menabung, tapi itu saya tidak tahu. Awalnya saya memanggil dia dengan sebutan gege, yang artinya older brother, tapi ternyata dia umurnya baru 23, jadi dia memanggil saya dengan sebutan jie jie. Nah kan jadi aneh. Akhirnya saya panggil dia dengan nama Chinesenya Jiao Fei. 

Jiao Fei ini semacam pengawal untuk anak-anak baru penerima beasiswa untuk pemerintah. Dia juga penerima beasiswa, tapi sudah di tahun ke 3. Kalau pemerintah Thailand mempunyai total penerima beasiswa Huaqiao sejumlah 75 orang, dari Indonesia hanya ada 9 orang. Bukan artinya tidak ada orang Indonesia lain… Yang ikutan program regular non beasiswa banyaaaaaakkkk…. Kalau mereka datang dari Indonesia mereka bawa uang Yuan beberapa gepokan. Widiihhh… Dan kami yang dari Indonesia dgn beasiswa cuma bisa terbengong-bengong. Tambah bengong-bengong lagi ketika semua mahasiswa beasiswa dari Thailand didukung penuh oleh pemerintahnya dengan tambahan uang bulanan sebesar 3000 Yuan. Lah wong tunjangan hidup kami sebulan hanya 2000 Yuan, mereka terima nya 5000 Yuan sebulan. Itu belum termasuk modal awal yang diberikan pemerintah Thailand ke mereka ketika mereka pertama kali datang kesini. Beda banget dengan penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, sebelum berangkat harus cari utangan dulu, supaya nggak kelaperan di negeri orang eaaaa… :))

Tapi salut deh dengan pemerintah Thailand yang benar-benar mendukung program ini. Pas pembukaan dan penerimaan murid baru kemarin aja banyak banget petinggi Thailand yang datang, orang dari kementerian pendidikannya pun datang. Dan tidak ada satu pun pejabat dari pemerintahan Indonesia yang datang. Kasian banget ya… aparat nya dilepas ke luar negeri, gak dikasih sangu, gak dipeduliin pas acara penerimaan. Ini kayak semacam show survivor gitu deh, jadi kebangetan aja kl ntar setelah lulus para aparat yang super canggih ini gak dihargai kerja kerasnya. 

9 orang mahasiswa dari pemerintahan ini juga harus menjadi otak dalam memamerkan kekerenan Indonesia. Harus menyiapkan acara-acara budaya dan event-event lainnya yang bikin semua orang dari negara lain iri, karena Indonesia, walaupun kere, tetap bisa bikin acara-acara keren. Ya iyalaah… Orang Indonesia gitu, kreatif to the max. Tak ada rotan, Ram Punjabi :D

A little selfie here and there 😚#selfie #xiamen #清真寺 #mosque

A little selfie here and there 😚#selfie #xiamen #清真寺 #mosque

True that. 

True that. 

Lilium. 

Lilium. 

Kacamata

Pas mudik kemarin, salah satu ponakan perempuan saya yang kelas 3 SD kepingin banget pakai kacamata, karena sepupu dia yang seumuran memakai kacamata dan menurut dia kelihatan keren. Ponakan perempuan saya ini unyunya minta ampu,  fashionista tapi tomboy, ramah tapi galak, cerewet tapi kadang cengeng. Jadilah dia merengek-rengek ke papanya minta dibeliin kacamata. Bapaknya aja yangjadi  stress karena harga framegaya-gayaan yang dia minta itu ratusan ribu rupiah.

Jadi ingat waktu saya masih SD dulu, walaupun saya nggak pengen pake kacamata, tapi menurut saya teman-teman yang pakai kacamata itu adalah anak pintar dan keren…

Ada teman SD saya yang cantik dan menggunakan kacamata dengan frame besar. Dia memang cantik, plus keren banget karena dia bisa menaikan kacamatanya kalau merosot hanya dengan menggerakan pipi dan hidungnya. Menurut saya itu adalah hal terkeren yang anak SD bisa lakukan. Sampai sekarang saya masih berpikir itu keren, karena saya masih gak bisa melakukannya.

Ketika SMP saya disuruh bu dokter mata pakai kacamata. Rasanya sedikit malu memakai kacamata, apalagi saya tidak tergolong anak-anak cerdas,s ebaliknya saya malah termasuk trouble maker, preman.  Gak kece banget kan, masa’ preman pake kacamata… Dan saat itu ada semacam aturan tak tertulis bahwa anak yang memakai kacamata pasti anak pintar kesayangan guru. Akhirnya saya pun malas-malasan memakai kacamata, karena keliatan gak keren, tetapi… Saya suka melihat orang berkacamata.  Bisa dilihat dari sejarah cowok-cowok yang saya suka, mantan-mantan saya (itu bisa ditanyakan ke ibu saya), dan sekarang suami saya pun berkacamata. Saya sih gak bilang ke dia kalau saya pertama kali jatuh cinta sama dia ketika dia datang ke rumah dengan kacamata minusnya dan dia terlihat seperti ‘nerd’, beneran kayak pak dosen ganteng gitu deh… bikin saya jadi deg-deg an takut dikasi nilai E.

Sekarang ini, minus di kacamata saya semakin bertambah, tentu saja lensanya jadi semakin tebal dan selain itu ada bekas kacamata di hidung saya yang membuat saya jadi gak kece lagi. Makin malas lah saya pake kacamata, pengennya sih dilasik, tapi ngeri, akhirnya saya berpaling ke softlens. Apalagi sekarang softlens warnanya lucu-lucu dan harganya lumayan miring, malah kalau dipikir-pikir lebih murah beli softlens daripada beli kacamata.

Suatu hari waktu saya lagi nunggu bajaj di halte busway ada ibu-ibu yang lumayan berumur memberi saya wejangan yang panjaaaaaannng banget tentang bahaya memakai softlens, apalagi softlens warna warni yang untuk gaya-gayaan, intinya kalau mata saya sehat kenapa harus pake softlens. Si ibu ya gak tau lah kalau saya ini sebenarnya sakit mata, jadi saya iyain aja si ibu biar cepet.

Si ibu bener sih, saya baca dimana gitu, gak boleh terus-terusan pake softlens karena mata juga perlu oksigen. Saya masih kok pake kacamata saya yang berlensa tebal itu, melihat kelakuan saya setiap hari yang selalu terlambat, saya tidak akan sempat memakai softlens yang penggunaannya harus berhati-hati. Biasanya saya langsung samber kacamata aja, pluk, nyangkut di idung, langsung berangkat.

Dan sebenarnya… Saya pake softlens bukan karena mau gaya-gayan mata saya jadi warna warni, saya lebih suka yang bening kok… Tapi alasan utamanya adalah supaya saya bisa pakai sunglasses lucu-lucu yang suka diobral di ITC. Tapi andaikan saya jelaskan itu ke ibu-ibu tadi, apalagi ke ponakan saya… ya… jadi lamaa… bajaj nya udah keburu dateng deh :)

 

Scribble scribble… #tayasuisketches

Scribble scribble… #tayasuisketches

Muslims are brothers, therefore make peace between the two brothers and fear Allah that the mercy may be shown to you.

'O believers! Let not the men scoff at the men, perchance they may be better than those who scoff, and nor the women at other women, perchance that they may be better than those women who scoff, and do not taunt one another and nor call one another by nicknames. What a bad name is, to be called a disobedient after being a Muslim, and those who repent not, they are the unjust.

'O believers! Avoid most suspicions, verily some suspicion is a sin and do not look out for faults and do not backbite one another. Would any of you like to eat the flesh of his dead brother? You would abominate it. And fear Allah, Verily Allah is Oft Returning, Merciful.

—QS 49 : 10-12

Cerebrum Poke

Two good news from two best friends at the same time, I am totally proud of them, they finally got what they have been dreaming of. They have accomplished their dream, and ready for bigger dreams.

Now I look at my self? Have I accomplished my goal in life? My cita-cita that is…. Maybe it’s kinda weird, for someone my age still has a cita-cita, I am not a little kid anymore, I should know what I want to do. While many have accomplished what they have been dreaming since they were kids, I stay in place, still not brave enough to take the first step. Not because I am already feeling too comfortable, but I feel that everyone else is happy seeing me the way I am now. Not necessarily my happiness but everyone else’s for sure, and what can be greater than seeing other people happy because of you?

Try to keep that in my mind, While I keep smiling, keep trying, keep praying. ^^v

Cats.
Using Tayasui Sketches, I was trying out my fingers. Wondering if they still function well.